Setelah melihat film Jendral Sudirman nampak di dalamnya ada
adegan peristiwa pada tanggal 28 Juni 1946 dimana saat Sjahrir tiba di Solo
para anggota polisi pengawal Sjahrir pun tak berdaya ketika komplotan PP dan
regu Batalion Sastro Lawu pimpinan Letkol Suadi membawa Sjahrir tanpa
perlawanan. Namun dalam film Jendral Sudirman tidak disebutkan secara detail
darimana para penculik itu berasal.
Selanjutnya pada saat
terjadinya Agresi Militer Belanda ke II dan Bapak Sudirman dari Bintaran ke
Gedung Agung yang jelas nampak adalah kapten Tjokropranolo. Dan untuk
saat Jendral Sudirman keluar kota Yogyakarta banyak beberapa tokoh yang tidak
disebutkan keberadaannya semisal penasehat politik yaitu Harsono tjokroaminoto
(mantan Menteri Muda Pertahanan semasa Kabinet Sjahrir III (1946-1947)), Letnan
muda Laut Heru Kesser, Vaandrig Kadet Utoyo Kolopaking. Di film ini hanya
disebutkan beberapa saja semisal dr Suwondo, Kapten Tjokropranolo (Nolly) dan Kapten Supardjo
Roestam (Djo), serta Kopral Aceng. Saat evakuasi Jendral Sudirman keluar kota
Yogyakarta digambarkanJendal Sudirman menggunakan mobil sedan........sedangkan
aslinya rombongan Pak Dirman yang menggunakan sejumlah jip sengaja berangkat
sore hari. Mobil jeep Pak Dirman yang dikemudikan sopir
pribadinya, Ateng, ditumpangi Supardjo Rustam yang duduk di sebelah kanan
pengemudi. Sedangkan Pak Dirman duduk di tengah diapit Dr Suwondo di sebelah
kanan dan Harsono di sebelah kiri. Sedangkan Tjokropranolo yang bertugas
sebagai penunjuk jalan duduk di atas spakbor. Di film tersebut malah tidak ada
penampakan Kapten Tjokropranolo duduk di atas spakbor.
Dan selanjutnya di film digambarkan rombongan Jendral Sudirman
bersembunyi di salah satu gua yang ada di sekitar pantai selatan tanpa
menyebutkan lokasinya tepat dimana. Memang walaupun sempat terlintas dalam
pikiran Kapten Tjokropranolo, jika perlu Pak Dirman dapat berlindung dalam
salah satu goa yang banyak terdapat di sekitar Parangtritis. Kapten
Tjokropranolo yakin Belanda tidak mungkin bisa menemukannya di situ. Akan
tetapi tempat itu terlampau terjal dan sulit dicapai, sehingga rencana itu oleh
Kapten Tjokropranolo lalu batalkan dan kemudian diputuskan untuk bersembunyi di
kawasan Gunung Kidul.
Dan di film ini digambarkan juga adanya laporan pasukan yang
melaporkan bahwa Soekarno Hatta dan beberapa pejabat penting lainnya telah
ditangkap oleh Belanda tanpa menyebutkan nama pasukan tersebut. Untuk nama
pasukan yang menyampaikan berita ke Jendral Sudirman yang sebenarnya adalah
Letnan Dua Basuki yang menyusul rombongan Jendral Sudirman setelah sesampainya
di Kretek.
Saat istirahat di Kretek ini digambarkan adanya tandu yang
diperuntukkan untuk Jendral Sudirman. Di film digambarkan ketika Jendral
Sudirman bertanya kepada Tjokropranolo untuk siapa tandu tersebut dibuat. Dan
dijawab sama Tjokropanolo kalau tandu itu dibuat untuk Jendral Sudirman yang
sedang sakit.
Jendral Sudirman saat ditandu
Padahal di Kretek ini dalam sejarah sebenarnya Jendral Sudirman
lalu dijemput lurah Mulyono Djiworedjo, dengan dokar namun tanpa kuda. Tanpa
pikir panjang, Pak Dirman dipersilakan untuk naik dokar dan Tjokropranololah
yang menjadi kudanya, sedangkan para pengawal lain mendorong dari
belakang. Dan Jendral Sudirman mulai ditandu sejak dari Kelurahan Grogol,
Soedirman harus ditandu yang diusung oleh penduduk secara bergantian.
Bila tidak ditandu, Soedirman naik dokar, seperti dari Playen ke desa Semanu.
Dari Semanu, Soedirman ditandu lagi sampai Bedoyo dan sambung lagi dengan dokar
yang lengkap dengan kudanya. Bahkan, bila rutenya jalan raya, rombongan
Soedirman memakai mobil, seperti dari Pracimantoro sampai Wonogiri dan Wonogiri
menuju Ponorogo. Mobil itu kiriman Staf Divisi Kolonel Gatot Subroto dari Solo.
Namun, bila medannya berat dan tidak bisa ditandu atau digendong, Soedirman pun
jalan kaki, seperti saat menuju markas Gatot Subroto di Gunung Lawu.
Di dalam film juga digambarkan Jendral Sudirman selalu diburu oleh
pasukan Belanda hanya anehnya setiap masuk daerah baru yang menemui langsung
menyebutkan nama Jendral Sudirman. Padahal dalam kenyataannya karena selalu
diburu oleh Belanda maka nama Soedirman harus lenyap. Sebagai gantinya
dipergunakan nama Semenjak berada berada di selatan Yogyakarta, Jendral
Soedirman menggunakan nama samaran Bapak Gede Abdullah Lelono Putro (Pak De).
Di film ini juga digambarkan saat Tan Malaka berada di Kediri
sekitar akhir bulan Desember 1948. Hanya disini Tan Malaka di Kediri
digambarkan sendiri padahal sejarah aslinya Tan Malaka berada di Kediri bersama
dengan Roestam Effendi. Keberadaan Tan Malaka di Kediri ini juga digambarkan
adanya pasukan yang pro Tan Malaka dengan tanda kain merah di lengannya. Tapi
di film ini tidak disebutkan secara jelas dari kesatuan mana pasukan yang di
lengannya ada tanda kain merah. Mungkin pasukan yang di lengan ada tanda kain
merah ini untuk menggambarkan pasukan pemuda Maluku yang dahulu anggota Laskar
Pattimura yang dipimpin oleh Mohamad Padang dimana pada tahun 1948 kemudian
masuk TNI. Laskar pattimura ini Roestam Effendi memiliki pengaruh juga
oleh karena kedua adiknya yaitu Abidin dan Deibel berada juga di sana.
Mungkin juga pasukan berkain merah di lengannya ini adalah pasukan
Mayor Sabaruddin. Mayor Sabaruddin menjalin hubungan yang lebih akrab dengan
Tan Malaka, sahabat barunya yang dia kenal sewaktu mereka berdua sama-sama
dipenjara di Ambarawa. Tan Malaka membutuhkan dukungan di kalangan militer
sehingga mengira mampu memperoleh peluang pula melalui tokoh Mayor Sabaruddin.
Begitu pula Mayor Sabaruddin, Perasaan senasib dalam penjara, menyebabkan dia
dengan mudah jatuh dibawah pengaruh Tan Malaka. Sejak itu ia bukan hanya
menjadi pengikut, tetapi juga menjadi pengagum Tan Malaka yang fanatik, selalu
hadir disetiap pertemuan-pertemuan rahasianya, dan menjadi pengawal pribadinya.
Di film ini pada periode Agresi Militer Belanda ke II digambarkan
Tan Malaka berceramah dengan latar belakang lambang partai terlarang.
Dalam kenyataannya pada saat Agresi Militer Belanda ke II Tan Malaka mencoba
untuk mengambil kesempatan untuk mengambil alih pimpinan perjuangan melawan
Belanda dengan mencoba menyiarkan kampanye anti Soekarno Hatta melalui radio
diwaktu bergerilya bersama Mayor Sabaruddin didaerah Gunung Wilis.
Di film juga digambarkan pasukan Jendral Sudirman bertemu dengan
segerombolan pasukan yang marah-marah karena kota Kediri di bom oleh Belanda
gerombolan ini mencari Jendral Sudirman, namun oleh pasukan Jendal Sudirman
disebutkan kalau mereka membawa orang sakit.
Dalam kisah sejarah sebenarnya Pernah suatu ketika, rombongan
pasukan Jendral Sudirman bertemu dengan pasukan dan laskar rakyat lainnya di
wilayah Kediri. Saat itu, pasukan Jendral Sudirman tidak bisa mengidentifikasi
mana lawan dan kawan. Karena susah membedakan mana lawan dan kawan hal inilah
yang menjadi pertimbangan pasukan kemudian dibagi dua. Pembelahan pasukan
tersebut kemudian dilakukan dengan membuat iring-iringan Jenderal Soedirman
palsu.
Selanjutnya terdapat adegan sebuah tandu yang dikawal oleh pasukan
dan setelah itu seorang keluar dari tandu dan melepaskan mantelnya lalu
meletakkan mantelnya dan selanjutnya masuk rumah lalu lari lewat belakang
rumah. Selanjutnya datang pasukan Belanda untuk mencari Jendral Sudirman. Dan
di sini tanpa disebutkan siapa nama prajurit tersebut.
Padahal menurut penuturan Tjokropranolo sendiri di dalam rombongan
Jendral Sudirman ini seperti disebutkan di depan ada anggota yang bernama
Letnan Muda (laut) Heru Kesser, yang wajah dan perawakannya mirip Pak Dirman.
Maka Pak Dirman palsu ini kami beri mantel dan tutup kepala beliau dan tetap
menempuh rute yang sudah ditentukan. Sedangkan Pak Dirman yang asli kami
lewatkan ke rute lain sehingga rombongan terhindar dari sergapan tentara
Belanda.
Taktik “Soedirman palsu” itu berhasil antara lain di Kediri di
akhir bulan Desember 1948. Keberadaan Jenderal Soedirman di rumah Mustajab
Gombloh, Dusun Karangnongko, Kediri, telah tercium mata-mata Belanda. Hingga
pada pagi buta, Ahad, 26 Desember 1948, sang Jenderal terpaksa dipapah
menerobos hutan. Menuju hutan, ia tidak lagi menumpang tandu. Bangku gendong
itu dipakai Heru sebagai Soedirman palsu. eesokan harinya, seorang warga
Karangnongko baru tahu keberadaan Soedirman. Jaminan warga Karangnongko diberi
tahu bahwa Pak Dirman berada di hutan utara dusun dan membutuhkan tandu baru. Janmingan
adalah mantan pembantu Kepala Dusun Karangnongko. Pria 93 tahun ini satu di
antara sejumlah orang yang menyaksikan rombongan Soedirman palsu keluar dari
rumah Mustajab. Rupanya, kata Jamingan, Soedirman berada di rumah Pardi,
seorang penduduk di Dusun Dasun, sebelah utara Karangnongko. Ia pun menyusul ke
sana. Di rumah Pardi, Jamingan merakit tandu untuk sang Jenderal. Bangkunya
merupakan pinjaman dari si empunya rumah. "Karena terburu-buru, kami
membuat tandu dari kursi yang diikat ke batang bambu, dari situ, Soedirman
melanjutkan perjalanan ke utara dan sampai di Dusun Goliman. Di dukuh itu, ia
lebih berhati-hati. Soedirman memilih tinggal di rumah terpencil dan tertutup
pepohonan. Kepada warga, ia mengaku sebagai kepala sekolah yang memiliki panggilan
Mantri Guru.
Di tempat lain, rombongan Soedirman palsu terus berjalan. Hingga
mereka menemukan rumah di pinggir sawah dekat perbatasan antara Dusun Besuki
dan Desa Joho. Layaknya Soedirman yang sedang sakit, Heru dipapah masuk ke
rumah.
Kapten Tjokropranolo, sang pemapah Soedirman, mengatakan bila
semua itu dilakukan untuk menyelamatkan nyawa sang Jenderal. Para pengawal
menduga orang itu mata-mata karena pasukan Belanda sudah menduduki pusat Kota
Kediri.
Belanda diduga sudah mengendus jejak mereka. Sebab, baru satu
malam mereka tinggal di Karangnongko, seseorang tak dikenal mendatangi rumah
Mustajab, tempat Soedirman menginap. Ia menanyakan keberadaan Soedirman dan
ingin bertemu. Strategi itu terbukti manjur. Sore harinya, tiga pesawat pemburu
Belanda mengebom rumah yang dimasuki Soedirman palsu. Rumah hancur
berkeping-keping, tapi tak ada korban jiwa di sana. Tanpa pakai atribut
Soedirman, Letnan Muda (Laut) Heru Kesser menyelinap ke luar rumah sebelum
pesawat pemburu Belanda datang.
Di film rumah tersebut bukan di bom pesawat pemburu Belanda akan
tetapi diburu oleh pasukan baret merah Belanda yang akhirnya mereka tidak
menemukan Jendral Sudirman.......dengan kondisi rumah yang tetap utuh padahal
aslinya rumah tersebut hancur luluh lantak dibom pesawat Belanda.
Lalu taktik ini juga dilakukan saat di Wonosari, dimana Kapten
Nolly –panggilan Tjokropranolo– mengumumkan bahwa Soedirman ada di kota itu.
Belanda pun menyerang besar-besaran dengan menerjunkan pasukan para di kota itu
untuk menangkap Soedirman, yang ternyata palsu. Mujur, “Soedirman palsu” pun
berhasil lolos. Untuk yang di Wonosari ini kemungkinan pada periode sekitar 10
Maret 1949 sd 22 Maret 1949 dimana pasukan 1e Para Cie Compagnie dan 2e Para
Cie Compagnie diterjunkan di Gading untuk memburu Jendral Sudirman dan pemancar
radio PC 2 di Playen. Namun usaha Belanda ini gagal total dan ditariknya
kembali pasukan Para Cie Compagnie ke Bandung lagi.
Lanjut ketika pasukan Jendral Sudirman menyerap pasukan Belanda
dan saat lari Kopral Aceng tertembak kakinya dan ditempatkan di rumah penduduk.
Setelah beberapa lama ada penyergapan pasukan Belanda dan lagi-lagi oleh
pasukan baret merah Belanda dan saat mundur Kopral Aceng disembunyikan di bawah
jerami dan pasukan Belanda lalu menembak mati pemilik rumah penduduk desa. Saat
pasukan Jendral Sudirman berada di atas bukit ternyata ada perbekalan berupa
beras yang tertinggal di desa dan ketika Jendral Sudirman akan berganti baju
baru tersadar kalau koper Jendral Sudirman juga tertinggal di rumah penduduk
desa yang digambarkan tadi ditembak. Di film disebutkan meminta Mustafa (Mus)
dan temannya untuk mengambil beras dan Soepardjo Roestam dan Karsani ke desa
untuk mengambil koper dan sesampainya di desa Soepardjo Roestam dan Karsani
bisa mengambil koper yang ditemui oleh putri pemilik rumah.
Padahal kisah sebenarnya menurut penuturan ajudan II Abu Arifin
disebutkan bahwa suatu waktu ketika berada di daerah Kediri, Jawa Timur,
pasukan Jenderal Soedirman terdesak masuk ke dalam hutan rotan di wilayah
tersebut. Saat itu, jelasnya, pasukan mengalami kelelahan yang sangat luar
biasa karena dikepung pasukan Belanda di sekitar hutan. Menurut penuturan Abu
Arifin saat itu, rombongan pasukan Jendral Sudirman terdesak dan akhirnya masuk
ke dalam hutan rotan yang berada di sekitar Kediri. Bahkan, logistik pasukan
sudah tidak mendukung karena pasukan Jendral Sudirman tidak bisa keluar hutan.
Meski berada dalam kondisi kelaparan yang luar biasa, pasukan masih tetap
bertahan untuk melakukan perlawanan. Hingga akhirnya di suatu malam, Ajudan I
Jenderal Soedirman, Soepardjo Rustam menembus barikade tentara Belanda menuju
desa terdekat di kawasan hutan rotan. Abu Arifin ingat waktu itu, Soepardjo
Rustam membawa sarung dan baju bekas menembus barikade pasukan Belanda yang
mengepung pasukan Jendral Sudirman. Pardjo saat itu menembus sendiri barikade
pasukan Belanda, tujuannya ternyata ingin menukar sarung dan baju bekas dengan
makanan, Dalam kegelapan malam tersebut, Supardjo Rustam menembus barikade
pasukan Belanda yang lengah. Hingga akhirnya, Supardjo Rustam berhasil kembali
membawa bahan makanan untuk pasukan yang dipimpin Jenderal Soedirman saat
melakukan perang gerilya. Parjo (Suparjo Rustam) ternyata berhasil menembus
barikade dan membawa pulang logistik berupa makanan. Namun, logistik yang
didapat ternyata terbatas. Saat itu, pasukan Jendral Sudirman kira membawa nasi
tapi ternyata yang didapat adalah nasi oyek. Dan pasukan Jendral Sudirman tetap
membaginya untuk menambah energi pasukan.
Lalu setelah tertembaknya seorang mata-mata Belanda, rombongan
Jendral Sudirman lalu sampai di Sobo Pacitan Jawa Timur dan menjadikan Sobo
sebagai basis gerilya. Memang Sobo ini menjadi tempat Soedirman memimpin
gerilya paling lama (1 April-7 Juli 1949).
Selanjutnya di film ini juga ada adegan tentang perintah Jendral
Sudirman kepada Kapten Tjokropranolo untuk mengamati keadaan di Yogyakarta
bersama juga dengan dr. Suwondo, serta adik iparnya Jendral Sudirman yaitu
Hanung.
Saat Nolly dan dr Suwondo diperintah
bersama Hanum ke Yogyakarta. Nampak adegan ketika tokoh Karsani gugur karena
ditembak oleh Belanda
Padahal dalam catatan sejarah memang benar Jendral Sudirman dalam
mencermati keadaan, tak jarang memerintahkan ajudan I Kapten Soepardjo Roestam,
untuk terus mencari informasi tentang keadaan di Yogyakarta. Jendral
Sudirman sering menyuruh ajudan pribadinya, Pak Soepardjo Roestam, mencari info
untuk masuk Yogya, sekalian minta laporan kondisi tiap front dari
komandan brigadenya.
Sedangkan Hanung juga sering diminta oleh Jendral Sudirman untuk menemui kakaknya yang nota bene istrinya Jendral Sudirman yaitu Siti Alfiah. Jika mereka kekurangan makanan. Untuk menutupinya, Soedirman mengirim sang adik ipar, Hanung Faeni, kembali ke Yogyakarta. Ditemani sopir pribadi Soedirman, Hainun Suhada, Hanung berjalan kaki untuk menyampaikan pesan sang Jenderal ke istrinya, Siti Alfiah.
Sedangkan Hanung juga sering diminta oleh Jendral Sudirman untuk menemui kakaknya yang nota bene istrinya Jendral Sudirman yaitu Siti Alfiah. Jika mereka kekurangan makanan. Untuk menutupinya, Soedirman mengirim sang adik ipar, Hanung Faeni, kembali ke Yogyakarta. Ditemani sopir pribadi Soedirman, Hainun Suhada, Hanung berjalan kaki untuk menyampaikan pesan sang Jenderal ke istrinya, Siti Alfiah.
Dalam amanat itu, Soedirman meminta perhiasan Alfiah untuk
membiayai perang. Kata anak bungsu Soedirman, Teguh Bambang Tjahjadi, ayahnya
sudah berpesan bila ia akan meminta perhiasan itu jika dibutuhkan. “Perhiasan
dibarter ayam dan beras,” kata Teguh.
Dan yang penting lagi dr W Hutagalung dimana beliau sekitar awal
Februari 1948 di perbatasan Jawa Timur, Letkol. dr. Wiliater Hutagalung - yang
sejak September 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial dan ditugaskan untuk
membentuk jaringan pesiapan gerilya di wilayah Divisi II dan III - bertemu
dengan Panglima Besar Sudirman guna melaporkan mengenai resolusi Dewan Keamanan
PBB dan penolakan Belanda terhadap resolusi tersebut dan melancarkan propaganda
yang menyatakan bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi. Melalui Radio
Rimba Raya, Panglima Besar Sudirman juga telah mendengar berita tersebut.
Panglima Besar Sudirman menginstruksikan untuk memikirkan langkah-langkah yang
harus diambil guna meng-counter propaganda Belanda. Dan sebagai dokter spesialis
paru, setiap ada kesempatan, dr W Hutagalung juga ikut merawat Pangsar yang
saat itu menderita penyakit paru. Selain sebagai dokter Hutagalung, yang
membentuk jaringan di wilayah Divisi II dan III, dapat selalu berhubungan
dengan Panglima Besar, dan menjadi penghubung antara Panglima Besar dengan
Panglima Divisi II, Kolonel Gatot Subroto dan Panglima Divisi III, Kol. Bambang
Sugeng. Pemikiran yang dikembangkan oleh Hutagalung adalah, perlu meyakinkan
dunia internasional terutama Amerika Serikat dan Inggris, bahwa Negara
Republiok Indonesia masih kuat, ada pemerintahan (Pemerintah Darurat Republik
Indonesia – PDRI), ada organisasi TNI dan ada tentaranya. Untuk membuktikan hal
ini, maka untuk menembus isolasi, harus diadakan serangan spektakuler, yang tidak
bisa disembunyikan oleh Belanda, dan harus diketahui oleh UNCI (United
Nations Commission for Indonesia) dan wartawan-wartawan asing untuk
disebarluaskan ke seluruh dunia.
Untuk menyampaikan kepada UNCI dan para wartawan asing bahwa
Negara Republik Indonesia masih ada, diperlukan pemuda-pemuda berseragam
Tentara Nasional Indonesia, yang dapat berbahasa Inggris, Belanda atau
Perancis. Pangsar menyetujui gagasan tersebut dan menginstruksikan Hutagalung
agar mengkoordinasikan pelaksanaan gagasan tersebut dengan Panglima Divisi II
dan III.
Letkol dr. Hutagalung masih tinggal beberapa hari guna membantu
merawat Panglima Besar, sebelum kembali ke markas di Gunung Sumbing. Sesuai
tugas yang diberikan oleh Panglima Besar, dalam rapat pimpinan tertinggi
militer dan sipil di wilayah Gubernur Militer III, yang dilaksanakan pada
tanggal 18 Februari 1949 di markas yang terletak di lereng Gunung Sumbing.
Selain Gubernur Militer/Panglima Divisi III Kol. Bambang Sugeng,
dan Letkol dr. Wiliater Hutagalung, juga hadir Komandan Wehrkreis II, Letkol.
Sarbini Martodiharjo, dan pucuk pimpinan pemerintahan sipil, yaitu Gubernur
Sipil, Mr. K.R.M.T. Wongsonegoro, Residen Banyumas R. Budiono, Residen Kedu
Salamun, Bupati Banjarnegara R. A. Sumitro Kolopaking dan Bupati Sangidi.
Letkol dr. Wiliater Hutagalung yang pada waktu itu juga sebagai
penasihat Gubernur Militer III menyampaikan gagasan yang telah disetujui oleh
Pangsar, dan kemudian dibahas bersama-sama.
Tapi sayangnya sosok seorang Hutagalung di film ini tidak
dimunculkan malah perannya sepertinya tergantikan oleh dr Suwondo.
Di bagian akhir nampak digambarkan kejadian dimana Tan Malaka
ditangkap dan ditembak mati oleh tentara Militer Divisi I Jawa Timur. Hanya
saja dalam film ini tidak disebutkan secara detail tanggal dan dimana Tan
Malaka ditangkap dan dieksekusi dan siapa yang melakukan eksekusi terhadap Tan
Malaka. Sebagai catatan Tan Malaka ditangkap bersama Sabaruddin oleh
pasukan kompi 45 Macan Kerah dibawah pimpinan Kapten Sampoerno pada tanggal 19
Februari 1949. Sabaruddin ini ditangkap karena dianggap tidak loyal terhadap
pimpinan TNI. Kapten Sampurno mengepung markas Mayor Sabaruddin di
Belimbing, Kediri arah utara, dari 4 penjuru. Pengepungan mendadak itu berhasil
mengunci dan menjebak pasukan Mayor Sabaruddin. Tan Malaka dan sekitar kurang
lebih 100 pasukannya berhasil dilucuti.
Dalam perjalanan menggiring para tawanan, Kompi 45 mendadak
diserang oleh pasukan Mayor Sabaruddin yang lain, pimpinan Kapten Achmad Ismail
didaerah Nganjuk. Akibat serangan itu, para tawanan berhasil meloloskan diri,
mereka terbagi dalam 3 rombongan, dua rombongan bersama Mayor Sabaruddin
bergerak ke timur menyeberangi Kali Brantas, sedang rombongan yang lain
termasuk Tan Malaka bergerak ke selatan menuju ke Trenggalek. Waktu rombongan Tan
Malaka tiba di desa Mojo, kurang lebih 10 km di selatan Kediri di tepi Kali
Brantas, mereka kepergok pasukan TNI dan di tempat inilah Tan Malaka ditembak
hingga tewas. Rombongan Mayor Sabaruddin di sebelah timur Kali Brantas bertemu
dengan Mayor Banuredjo, komandan Batalyon 22 beserta dua perwira stafnya Kapten
Rustamandji dan Letnan Pamudji. Mayor Sabaruddin menangkap dan menawan ketiga
perwira tersebut dan selanjutnya membunuhnya di Malang Selatan.
Kematian Banuredjo menambah murka Surachmad dan para komandan
brigade di Jawa Timur lainnya. Dan Mayor Sabaruddin, meski berhasil meloloskan
diri, makin terdesak oleh tentara yang terus mengejarnya. November 1949
pasukannya terjepit di Kawi Selatan, Malang. Kolonel Soengkono, panglima dan
gubernur militer di Jawa Timur, membujuk Mayor Sabaruddin lewat surat. Isi
surat tersebut ialah perintah supaya Mayor Sabaruddin menghadap Soengkono di
Surabaya, hendak diajak membahas upaya perundingan gencatan senjata antara
TNI-Belanda. Kali ini Mayor Sabaruddin melunak. Dengan menunggang kuda, Mayor
Sabaruddin turun gunung menuju Surabaya. Tapi sesampainya di Surabaya,
Soengkono sudah bertolak ke Nganjuk, tempat dilangsungkannya perundingan
gencatan senjata itu.
Mayor Sabaruddin bertemu dengan tentara-tentara Belanda yang juga
akan berangkat ke Nganjuk untuk perundingan. Mengingat pangkatnya yang lumayan
tinggi, dia diperlakukan dengan hormat oleh Belanda. Bahkan dia difasilitasi
mobil dan berbarengan dengan delegasi Belanda berangkat ke Nganjuk.
Di Nganjuk, pada saat para komandan sedang rapat, tiba-tiba datang
Mayor Mayor Sabaruddin hendak turut serta menghadiri rapat tersebut. Kehadiran
Mayor Sabaruddin yang tak diundang itu cukup mengejutkan dan menggelisahkan
para perwira yang hadir, terutama bagi perwira pasukan yang pernah ditugaskan
menangkap, bertempur melawannya. Mayor Sabaruddin yang berkali-kali telah bikin
onar dan bertanggung jawab atas tewasnya sejumlah orang, dinilai tidak bisa
lagi diampuni.
Usai perundingan, Kolonel Soengkono mengajak Mayor Sabaruddin
menuju markasnya di Ngluyu, juga di kabupaten yang sama. Pada kesempatan itu
beberapa pengikutnya yang masih bersimpati turut memohon kepada Soengkono
supaya Mayor Sabaruddin dimaafkan. Namun, Soengkono sudah mengambil keputusan.
Mayor Sabaruddin ditahan.
Surachmad yang masih menyimpan dendam kepada Mayor Sabaruddin
turut mendengar bahwa Mayor Sabaruddin hendak dihukum tahanan. Dia menganggap
hukuman itu tak tak cukup setimpal. Ketika Letkol Surachmad mendengar kejadian
tersebut, ia memerintahkan CPM (Corps Polisi Militer) yang di bawah komandonya
untuk mengambil Mayor Sabaruddin dan membawanya ke Madiun untuk diadili.
Sekitar 24 November 1949, sesuai kehendak Surachmad, anggota CPM
menyeret Mayor Sabaruddin ke Madiun. Dalam perjalanan menuju Madiun, di
Wilangan, Mayor Sabaruddin dieksekusi sesudah pengadilan militer di medan
perang menjatuhkan hukuman mati. Berakhirlah petualangan Mayor Sabaruddin.
Di film ini digambarkan datangnya utusan yang menemui Jendral
Sudirman namun di film ini tidak disebutkan secara detail siapa utusan yang
menemui Jendral Sudirman serta lokasi dimana pertemuan ini dilakukanpun tidak
disebutkan. Padahal aslinya pada tanggal 8 Juli 1949 Letkol Suharto dari Yogya
ke Wonosari kami naik jip milik UNCI (United Nations Commission on Indonesia) yang
disetir sendiri oleh Letkol Soeharto, yang baru berusia 28 tahun, berpakaian
seragam putih dengan syal leher serta peci bivak warna hitam. Dari Wonosari
naik sepeda menyisir Gunung Kendeng, lalu berjalan kaki hingga tiba pukul 20.00
di Desa Ponjong, markas Sudirman. Tujuan dari menjemput Jenderal Sudirman agar
dunia internasional diberi tahu tidak ada perbedaan antara Soekarno-Hatta dan
Sudirman (tentara) dalam pelaksanaan persetujuan Roem-Royen mengenai penyerahan
kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag.
Lalu digambarkan juga adanya surat dari Sri Sultan Hamengku Buwono
IX yang disampaikan kepada Jendral Sudirman dan surat dari Sultan HB IX yang
membuat luluh hati Jendral Sudirman. Padahal baik surat pemanggilan dari
sang proklamator pun belum bisa membujuk Pangsar Soedirman dengan segera
kembali, begitu pun surat-surat lain dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan
Kolonel Gatot Soebroto pun nihil hasilnya.
Gambaran Jendral Sudirman di Gedung Agung
bersama
Presiden Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Drs.
Moh. Hatta
Dan di bagian akhir film ini digambarkan kejadian tanggal 10 Juli
1949 dimana Jendral Sudirman diantarkan ke Gedung Agung dan menemui Presiden
Sukarno dan Muh Hatta lalu Jendral Sudirman dipeluk oleh Presiden Sukarno yang
mana adegan ini sampai diulang 2 kali untuk tujuan pendokumentasian. Hanya saja
peran Letkol Suharto dalam mendampingi Jendral Sudirman saat masuk ke
Yogyakarta hingga diantar ke Gedung Agung tidak digambarkan dalam film ini. Dan
juga tidak digambarkan peran TB Simatupang yang mana beliaulah yang menyarankan
agar Jendral Sudirman menemui Presiden Sukarno dan wakil Presiden Muhammad
Hatta sebelum menginspeksi pasukannya di alun-alun.
Dan juga dalam film ini tidak pernah digambarkan adanya sosok
Letkol Suadi yang selalu menggunaan baret hitam (gelap) dan membawa senapan M1
Carabine dimana beliau ini yang sejak Maret 1949 selalu mengawal Jendral
Sudirman termasuk saat Jendral Sudirman akan masuk dan sesaat memasuki
Yogyakarta dan menginspeksi pasukannya di alun-alun utara Yogyakarta banyak dokumentasi
foto yang memperlihatkan adanya Letkol Suadi saat mengawal Jendal Sudirman.
Seperti yang teruraikan di atas tokoh-tokoh kunci seperti Letnan
Muda (Laut) Heru Kesser, Letkol Suadi, dr. W Hutagalung tidak dimunculkan dalam
film ini dan di film ini lebih banyak menceritakan tentang Kopral Aceng. Kopral
Aceng ini memang salah satu pengawal Jendral Sudirman akan tetapi perannya
dalam sejarah tidak sebanyak tokoh Letnan Muda (Laut) Heru Kesser. Letnan Muda
(Laut) Heru Kesser ini merupakan tokoh kunci dalam gerakan gerilya Jendral
Sudirman karena Letnan Muda (Laut) Heru Kesser ini menurut penuturan ajudan II
Abu Arifin kemudian menjadi "Jendral Sudirman" palsu yang mana
kemudian rombongan Jendral Sudirman dipecah menjadi 2 yaitu rombongan Jendral
Sudirman asli dan rombongan Jendral Sudirman palsu. Di rombongan Jendral
Sudirman palsu ini pada akhirnya mereka bertemu kembali banyak anggotanya yang
gugur. Dan juga di film ini dimunculkan adanya tokoh semacam Karsani yang di
film ini digambarkan lalu gugur sebagai kusuma bangsa. Saya melihat tokoh
Karsani ini sebagai penggambaran para pahlawan tidak dikenal yang merupakan
para pengawal Jendral Sudirman.
Kemudian di film ini penggambaran pasukan Belanda yang selalu
nampak pasukan KST dan semua menggunakan baret merah dan baju doreng frogskin.
Padahal aslinya pasukan ini selain baret merah juga ada yang baret hijau serta
bajunya campur aduk ada yang doreng frogskin ada yang baju hijau-hijau. Dan
persenjataan yang digunakan oleh para pasukan KST ini kebanyakan M1 Garrand.
Padahal aslinya pasukan KST ini kebanyakan menggunakan senapan sub machine gun
Owen Gun dan ada beberapa yang menggunakan senapan laras panjang Lee Enfield
atau lebih dikenal dengan senapan LE. Dan di film ini juga ada penampakan mobil
jeep dengan stir kanan padahal di masa itu seluruh mobil jeep ang digunakan
adalah stir kiri. Selain itu juga ada penampakan mobil jeep dengan snorkel
untuk knalpotnya.......serta ada jeep yang ada lambang bintangnya malah di jeep
tidak ada penampakan lambang bendera Belanda dan no seri yang umum terlihat di
foto dokumentasi tentang kendaraan jeep yang digunakan oleh pasukan Belanda di
Indonesia di masa itu.
Sebagai film untuk tontonan termasuk bagus, tapi untuk film yang
digunakan untuk edukasi mengenai sejarah sangat disayangkan kurang pas karena
banyak kejadian yang tidak seperti aslinya. Dan ini jika film ini dilihat para
pelajar atau orang yang ingin tahu mengenai sejarah sangat kurang baik.
Seperti diulas beberapa pihak lain film ini juga sedikit
meremehkan peran Presiden Sukarno yang digambarkan menolak untuk ikut berjuang.
Meskipun memang dalam kenyataannya Presiden Sukarno menolak untuk bergerilya
tapi penggambaran dalam film ini saat bercakap-cakap dengan Jendral Sudirman
agak kurang pas.
Memang saya akui sulit membuat film yang berhubungan dengan
sejarah masa lalu. Serta ini memang bukan film dokumenter akan tetapi alangkah
baiknya jika film dibuat sesuai dengan fakta sejarah serta per adegan yang
menyangkut kejadian nyata disertakan lokasi dan tanggal kejadian sehingga
penonton film bisa dapat informasi yang tepat serta bisa memahami setiap
kejadian secara runut dan menarik.
Semoga saja kelemahan-kelemahan yang ada di film ini bisa
diperbaiki oleh sineas-sineas di Indonesia.
Amanat: kita harus menghargai para pejuang dan harus menjaga apa
yang telah di perjuangkan, semoga generasi muda lebih membanggakan dan semoga
apa yang di perjuangkan tidak luntur dari waktu ke waktu. Saya bangga menjadi
generasi muda indonesia.


